Asrama HPMM Borong adalah Warisan Sesepuh HPMM

Foto Musliadi Saguni
Makassar Formaspul - Kisruh pembangunan gedung DPW HIKMA (Himpunan Keluarga Massenrempulu) Sul-Sel di area tanah asrama HPMM (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Massenrempulu) Borong mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Salah seorang  mantan Ketua HPMM (sesepuh HPMM- red) dan mantan Sekjen HIKMA, Sukman Baharuddin, dengan tegas mengingatkan sejumlah pihak agar merevisi label HIKMA pada gedung yang sementara dalam tahap pembangunan di lokasi asrama HPMM Borong.

Menurut Sukman, tanah HPMM yang terletak di Jalan Borong Raya adalah hasil rueslag dari tanah asrama HPMM di jalan monginsidi. Adapun keberadaan asrama monginsidi pada saat itu merupakan jerih payah, hasil tabungan, dari mahasiswa HPMM pada jaman itu.

"Asrama HPMM Borong merupakan tanah warisan, cara memperlakukannya tidak boleh disamakan dengan asrama HPMM Tamalanrea, Tamalanrea memang berasal  dari APBD Enrekang, kalau tanah HPMM di Borong hasil dari uang lapar mahasiswa di jaman Bapaknya Reza Ali, Riza (Sutradara) dan lain-lain", ungkap Sukman yang juga mantan pengawas salah satu BUMD di Kota Makassar (15/06).

Lebih jauh Pak Sukman mengungkapkan bahwa ketika tanah Borong akan disertifikatkan dan dibangunkan gedung asrama, HPMM belum memiliki badan hukum, maka pada saat itu meminta saran kepada Ketua Dewan Pembina DPC HIKMA Makassar ILham Arief Sirajuddin dan Bupati Enrekang Latinro Latunrung untuk dicarikan solusi agar tanah asrama HPMM di jalan Borong mendapat sertifikat dan dapat mendirikan bangunan asrama. Walhasil, aset tanah Borong dialihkan kepemilikannya sementara, dari HPMM ke Pemda Enrekang, agar tanah di Borong dapat dibangunkan gedung asrama untuk HPMM.

"Jadi pada dasarnya tidak masalah HIKMA SulSel membantu mendirikan bangunan di area tanah milik HPMM dengan catatan tidak mengklaim bahwa gedung tersebut milik HIKMA Sul-Sel, lebih pantas jika gedung tersebut berdiri, diberikan nama Gedung Serbaguna HPMM, nanti didalamnya ada HIKMA Sul-Sel,ada koperasi HIKMA misalnya, silahkan mendirikan sekretariat disana, namun jangan menghilangkan sejarah perjuangan sesepuh HPMM, karena pemilik sejati tanah asrama di jalan borong raya adalah HPMM, bukan HIKMA ataupun Pemda Enrekang", pungkas pak Sukman.


Klaimisasi


Dalam perbincangan singkat namun padat nuansa kemassenrempuluan ini, turut hadir Arqam Azikin (Pengamat politik kebangsaan), Andi Suparno (Mantan Aktivis HPMM), Hasri Jack (Aktivis GAM), Sugiharto (Aktivis PKS Enrekang) dan Hardiman (Praktisi Wirausaha Internet). Diselingi diskusi kecil disela acara buka puasa bersama yang penuh kekeluargaan bulan ramadhan bertempat di Ulu Juku Ibu Rachmi.

Arkam Azikin memandang pentingnya pendekatan kekeluargaan menelusuri jejak amanah awal tanah HPMM di borong, siapa-siapa saja yang berkontribusi hingga asrama borong bisa ada saat ini, minimal masih ada senior-senior, setelah itu barulah kemudian, HIKMA Sul-Sel kalau memang bermaksud baik, memanggil pemegang sejarah awal menceritakan ihwal keberadaan tanah tersebut dan meminta saran yang konstruktif bagi aset HPMM dan sejarah kemahasiswaan Massenrempulu.

Lain halnya pandangan Andi Suparno, penggiat kemassenrempuluan ini mengatakan, "sebagai mantan aktivis HPMM, kepala saya mendidih, ini sama saja melecehkan sejarah HPMM, melecehkan pejuang-pejuang HPMM terdahulu, prinsip to bana sudah keluar dari pakem kemassenrempuluan kita dengan kesewenang-wenangan yang dimiliki Pak Ketua DPW HIKMA Sul-Sel, bertaubatlah mumpung masih bulan Ramadhan". Andipun menambahkan, "Ini ranah, Alhaqku min pewaris bukan Alhaqqu min rabbikum".(AP-formaspul)

Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa-jasa Pahlawannya