Breaking News

LAMPION MERAH KOH EDY

-- cerita lama tentang orang-orang Cina Makassar

Tahun Baru Cina Imlek tiba. Lampion merah di mana-mana, angpao bertebaran, doa-doa menolak bala dan mengharap kesejahteraan bersilangan di udara. Gong Xi Fa Cai 2567: semoga rezeki kesehatan dan kedamaian tercurah kepada kawan-kawan semua.

Suku bangsa ini, Cina, ada di setiap kota di dunia. Mereka adalah contoh bangsa yang bertebaran di berbagai tempat di muka bumi tetapi tetap teguh menjaga budaya dan identitasnya. Karakter suku bangsanya. Pusat kota London, tepat di belakang Trafalgar Square yang tak jauh dari Buckingham Palace adalah kawasan Pecinan prestisius. Di kota Liverpool bahkan ada China Town dengan gerbang besar yang kokoh dan bertulisan huruf mandarin. Di Jakarta, sebagian besar kawasan di barat dan utara kota adalah kawasan Pecinan.

Dan Makassar, kota saya tercinta, cerita tentang orang-orang Cina adalah cerita tentang perjalanan sejarah Makassar sendiri. Apa jadinya Makassar tanpa warga keturunan Cina? Seusai kerusuhan tahun 1997, Panglima Kodam Wirabuana, Mayjen Agum Gumelar saat itu mempunyai perumpamaan yang tepat: "Cari baterei pun susah." Ketika kerusuhan melanda, warga keturunan Cina memang menutup toko-toko dan usaha mereka selama tiga hari. Dan Makassar – saat itu masih bernama Ujungpandang – pun seperti kota yang lumpuh.

Dan inilah cerita saya tentang warga keturunan Cina di Makassar, yang jumlahnya tak sampai 100.000 di antara hampir 2 juta jiwa penduduk kota. Sebuah cerita lama yang ingin saya tuliskan kembali.

Orang-orang Cina datang ke Makassar dalam keadaan miskin di tahun 1676, saat Kerajaan Gowa di bawah kekuasaan Karaeng Bisei. Mereka memang mengembara dari Hokkian di daratan Cina, negeri yang ribuan mil jaraknya. Di kota ini mereka diterima dengan tangan terbuka.

Di tanah harapan itu, dari puluhan orang, mereka beranak-pinak jadi ratusan. Pada akhir abad ke-19, jumlah orang Cina di Makassar telah mencapai 500 orang. Mereka dipimpin seorang bangsawan keturunan Dinasti Tung yang pernah berkuasa di Cina, yang disebut Kapitan Tung.

Pekerjaan mereka awalnya adalah menjual kecap, membetulkan sepatu, dan yang sedikit pintar menjadi pedagang antara pengusaha pribumi dengan kapal-kapal Eropa. Mereka keliling kota memakai topi lebar berujung lancip, menjual kecap dengan pikulan dan giring-giring berlonceng. Sementara, para wanita Cina, sudah terbiasa memakai kebaya dalam bekerja dan bepergian. Dengan warga pribumi, mereka akrab, sebagian prianya bahkan menikah dengan warga suku Makassar.Peranakan-peranakan Cina Makassar ini, bahkan tak kenal lagi bahasa induknya. Mereka justru mahir berbahasa Makassar.

Jika tahun baru Imlek tiba, warga mereka larut dalam perayaan yang disambut suka-cita oleh orang-orang pribumi. Mereka menggantung petasan dan menggelar atraksi barongsai di kawasan Pecinan yang kini menjadi Jalan Sulawesi dan sekitarnya. Orang-orang pribumi ikut memanggul naga raksasa buatan diiringi tari-tarian. Orang-orang Cina sepuh di Makassar kini tentu masih ingat, dulu ada satu keluarga pembuat barong di Jalan Sulawesi. Jika perayaan Imlek tiba ia membuat dua barong raksasa, satu melambangkan dewa, yang lainnya dewi. Dewa menanti di Makassar, sedang barong dewi di kota Maros, 30 kilometer utara kota. Barong-barong itu dipertemukan di tengah jalan oleh penari-penari pribumi yang memanggulnya. Atraksi barongsai setiap Imlek itu masih dilihat warga kota Makassar sampai tahun 1950, sebelum pemerintah mengeluarkan larangan memainkan tarian tradisional Cina ini di Indonesia selepas peristiwa kisruh politik di tahun pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru.

Belandalah yang menanam bibit merenggangnya hubungan orang-orang Makassar pribumi dengan keturunan Cina. Sekitar tahun 1935 pemerintah kolonial Belanda membagi penduduk Makassar dalam tiga kategori: Belanda, pribumi, dan orang-orang Timur Asing (Cina, Arab dan India). Orang-orang Timur Asing mendapat banyak kemudahan ketika berhubungan dengan birokrasi kolonial, terutama kemudahan menguasai dan membeli tanah milik orang-orang pribumi. Anak-anak Cina bersekolah di sekolah khusus warga Cina yang berbahasa pengantar bahasa Belanda: Chinese Lagere School.

Waktu berlalu, orang-orang Cina di Makassar bertambah. Selain beranak-pinak dengan pesat, generasi ketiga orang Cina di Makassar menerima tambahan kedatangan warga dari Pulau Jawa yang kian padat. Setelah kemerdekaan, sekitar tahun 1950, orang Cina telah berkembang sampai 5.000-an orang. Sementara, orang Timur Asing lainnya dari India, dianggap terlalu sedikit dan tidak berpengaruh terhadap keseharian warga Makassar, terutama di bidang ekonomi. Adapun orang-orang Arab dihormati sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Begitulah. Seperti kota-kota lain di Indonesia, etos kerja yang tinggi dari warga Cina di Makassar mengangkat harkat perekonomian mereka. Kendati di antara mereka, ada juga yang menjadi pejabat dan intelektual. Sebut saja Komisaris Polisi Tung, Hakim Thio Tiong Gun yang pada awal 1960-an dikenal sebagai pejabat-pejabat yang jujur. Dan jangan lupa Profesor Teng Tjeng Leng, intelektual dari Makassar yang menjadi anggota delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Oh ya, ada juga segelintir orang Cina-Muslim yang biasanya melaksanakan shalat di sebuah masjid di kawasan Pasar Butung – seperti Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta.

Dalam perjalanan waktu, konflik berbau SARA beberapa kali terjadi. Misalnya, yang terkenal adalah Peristiwa Toko La di tahun 1980. Waktu itu pemilik Toko La di Jalan Sungai Calendu, menghamili pembantunya, perempuan asal Toraja. Ia lalu membunuhnya ketika wanita malang ini minta dinikahi. Tindakan bejat oknum warga ini sontak menyebar dan akibatnya dialami orang-orang Cina yang tak bersalah di Kota Makassar. Mereka diganyang. Peristiwa Toko La meninggalkan luka yang dalam, sedikitnya 1.123 rumah dan toko, 29 mobil dan 42 dirusak massa yang beringas.

Tujuh belas tahun kemudian, 15 September 1997, kerusuhan kembali meletup tapi tidak meluas dan hanya berlangsung singkat. Gara-garanya, seorang pengidap penyakit jiwa bernama Benny Karre di Jalan Kumala, telengas membacok seorang anak kecil.Setelah itu, Makassar kembali seperti sediakala. Kota untuk semua bangsa. Dan semoga terus begitu.


Beberapa tahun lalu, saya datang ke Kota Guangzhou, kota metropolitan terbesar di bagian selatan Cina, yang dibelah Sungai Mutiara. Saya dijemput di Bandara Baiyun oleh seorang lelaki berbadan tegap, usia paroh baya, dan memperkenalkan dirinya dengan nama Edy. Saya pun memanggilnya Koh Edy. Saya kaget mendengar ia berbicara: bahasa Indonesia dialek Makassar, dengan bunyi huruf vokal panjang-panjang. “Di maaaana, sama siaaapa ... ?”
Koh Edy tak pernah ke Makassar, ia lahir dan besar di Guangzhou. Lalu darimana dialek itu?
Ternyata, orang tuanya dari Makassar. Mereka terusir bersama seratusan keluarga dari Makassar seusai kisruh politik di tahun 1965. Keluarga-keluarga ini kemudian berlayar ke kampung leluhur, ke kota yang sesungguhnya masih asing bagi mereka. Di Guangzhou, orang-orang Makassar ini tinggal bertetangga di rumah-rumah susun. Sehari-hari mereka tetap berbahasa Makassar atau bahasa Indonesia berdialek Makassar. Lalu menurun ke anak-anaknya: seperti Koh Edy yang menemani saya di Guangzhou yang seumur-umur belum pernah ke Makassar.
Saya masih menyimpan nomer telepon Koh Edy – pemandu orang-orang Indonesia yang hendak berpesiar ke Guangzhou. Hari ini, saya mengirim pesan Selamat Tahun Baru Cina kepadanya. Juga untuk kawan-kawanku semua.
Selamat merayakan Imlek. Semoga Anda semua dilimpahi kesejahteraan dan kedamaian. Gong Xi Fa Cai 2567.
-- parkiran mal, 7 Februari 2016


Tomi Lebang
Wartawan Senior