Breaking News

Media Sosial dan Permusuhan Pada Anak

Tiap kali muncul kasus guru diadukan ke polisi atau diadili dalam kasus kekerasan terhadap anak, tidak lama kemudian bertebaran di media sosial pembelaan buta pada pelaku, bahkan perbuatannya.

Selalu saja kasus-kasus itu memicu balas dendam para guru dan pendukungnya. Solidaritas atau pembelaan disampaikan dengan menyebarkan tulisan atau gambar yang menyerang anak.

Baru-baru ini seorang guru agama SD di Jakarta Timur dilaporkan ke polisi karena dituduh mencubit muridnya. Spontan aksi itu mengundang solidaritas. Dalam waktu singkat tersebar di media sosial tulisan dan gambar-gambar bernada kebencian dan memusuhi anak.

Sebuah gambar empat anak SD berseragam kemeja putih dan celana merah tengah merokok di tangga segera saja tersebar luas. Masih mending, wajah keempat anak itu tidak dipertontonkan. Akan tetapi tulisan yang menyertainya sungguh bernada kemarahan.

“Para orangtua, tuh lihat anakmu. Kami guru sudah gak berani beri hukuman, nanti ada lapor ke polisi, kami akan masuk penjara atau bayar denda. Minta bantu aja sama HAM.” Demikian ditulis oleh seorang kepala sekolah di Aceh.

Di laman facebook “Info Guru” terpasang “meme” yang tidak kalah garang. Pamflet virtual itu diberi judul “Surat untu Orang Tua yang Keblinger”. Surat itu menyatakan pada orangtua murid yang tidak mau anaknya ditegur oleh guru untuk mendidik sendiri anaknya, membikin kelas, rapot, ijazah, dan kurikulum sendiri.

Solidaritas dan pembelaan guru sah-sah saja dilakukan. Akan tetapi membenarkan kekerasan fisik atau verbal terhadap anak, dengan dalih mendisiplinkan sekalipun, jelas tidak bisa dibenarkan. Perbuatan ini dalam hukum positif kita dikategorikan sebagai tindakan kriminal dan diancam hukuman pidana. Lagi pula mendidik dengan hadiah dan hukuman merupakan pendekatan pedagogis yang ketinggalan zaman. Itu berasal dari teori behavioralistik Pavlov dan kawan-kawan yang diturunkan dari eksperimen terhadap binatang atau anjing.

Bahkan Ki Hadjar Dewantara dalam kumpulan tulisannya yang terbit 1930–40an tegas menentang hukuman fisik. Mendidik anak, menurut Dewantara, tidak boleh dengan menciptakan ketakutan. Karena itu tidak memerdekakan tetapi menghasilkan orang-orang terperintah. John Holt dalam tulisan-tulisannya pada 1960-an juga menentang hadiah dan hukuman dalam pendidikan. Jadi rendahnya pengetahuan pedagogis, kemalasan berpikirlah yang menyebabkan guru atau orangtua murid mengambil jalan pintas mendidik dengan menggunakan kekerasan.

Kampanye permusuhan dan kebencian terhadap anak harus diakhiri melalui media sosial maupun media massa harus dihentikan. Pembenaran terhadap perbuatan guru yang melakukan kekerasan fisik akan melahirkan kekerasan baru, kejahatan baru. Menyebarkan gambar-gambar anak yang dituduh melakukan kesalahan, bahkan menghina guru sekalipun, tidak dibenarkan.

Jika Anda mendapati “meme” yang mengampanyekan kekerasan pada anak atau gambar-gambar anak yang melakukan tindakan menyimpang jangan disebarkan. Tuliskan ketidaksetujuan Anda, peringatkan penulis atau pemasang gambar bersangkutan.


LSPP Mediawatch