Breaking News

Muhammadiyah Jangan Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

*Makassar-formaspul-Dialog iktikaf sebagai salah satu rangkaian kegiatan Kuliah I’tikaf Ramadhan yang digelar oleh Pendidikan Ulama Tarjih UNISMUH (Universitas Muhammadiyah) Makassar. Bertempat di Masjid Attajdid Rusunawa C PUT. UNISMUH Jl Tallasalapang Makassar. Menghadirkan narasumber akademisi dan pendiri sekolah kebangsaan,  Arqam Azikin,  serta Anggota DPRD Sul-Sel  Fraksi PAN (Partai Amanat Nasional), Usman Lonta.(03/07)


Mengangkat tema, peran politik praktis dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih. Arqam mengemukakan, arti pentingnya Muhammadiyah sebagai organisasi kader memberikan ruang pada partai politik, sebagai ke-empat gerakan perjuangan Muhammadiyah setelah dakwah, pendidikan dan kesehatan.


“Muhammmadiyah saat ini hanya menjadi penonton dalam panggung politik dan Pemerintahan disemua level, mulai dari kab.kota, provinsi hingga ditingkat pusat. Kader Muhammadiyah telah kenyang dengan tempaan organisasi, matang bersosialisi dengan semua elemen masyarakat”, papar Arqam pengamat politik kebangsaan.


Arqam melanjutkan, “Sudah selayaknya Muhammadiyah sebagai organisasi kader membuat grand desain strategi politik memasuki abad ke XXII, hal ini tidak tabuh dan haram dilakukan, karena tuntutan kedepan Muhammmadiyahlah satu-satunya ormas yang memiliki pengkaderan multi kaderisasi. Apakah ada partai politik melakukan kaderisasi seperti Muhammadiyah, tidak ada. Coba lihat, betapa banyak partai politik berdiri hanya bermodal ketokohan dan sejumlah uang. Muhammadiyah seharusnya mengambil bagian dalam tatakelola sistem perpolitikan kita, kalau tidak maka Muhammadiyah akan menerima nasib sebgai korban sistem politik kita yang karut marut”.





Senada dengan Arqam, Usman Lonta menuturkan, “Jangan seperti pemuda ashabul kahfi, yang dalam riwayat, setelah tiga abad didalam gowa, tidak mengetahui perkembangan jaman diluar, menganggap bahwa sistem politik dan perubahan sosial masih sama dengan tiga abad lalu. Setelah mereka keluar gowa, mereka gamang dengan kondisi diluar, bahkan alat tukar mata uang yang mereka simpan selama tiga ratus sembilan tahun sudah tidak berlaku lagi atau kadaluarsa, begitulah kondisi Muhammadiyah saat ini dalam konteks politik kita. Lompatan strategis dibutuhkan Muhammadiyah dalam menyongsong masa depan bangsa yang berkeadaban,” pungkas anggota DPRD dan Tokoh Muhammadiyah Sul-Sel ini.



Terkait hal ini, dalam sebuah kesempatan, Amin Rais sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga bapak reformasi pernah mengatakan, sikap apolitis sebagian besar umat Islam salah satunya didorong oleh paham sekuralisme yang memisahkan kehidupan sosial terhadap agama. Paham ini lahir dari konsep gereja di Eropa masa lalu yang menempatkan urusan politik, kekuasaan, ekonomi sebagai urusan raja di ranah tersendiri yang terpisah dari urusan agama. Sementara agama hanya berkutat pada urusan ritual ibadah saja. Amin Rais adalah mantan Ketua MPR dan meraih doktor tahun 1988-1989 di George Washington University serta gelar Ph.D dalam ilmu politik tahun 1984 di Chicago University, USA.(AP-formaspul)