Breaking News

Media Alternatif Bagi Warga Pedesaan


Formaspul - Representasi masyarakat adat dalam media arus utama sangat minim. Ini menyebabkan suara masyarakat adat kurang mendapat perhatian (voiceless) dari negara. Untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat mengembangkan saluran komunikasi alternatif melalui program RuaiSMS yang dikelola oleh RuaiTV, sebuah stasiun TV lokal. RuaiSMS merupakan praktik jurnalisme warga berbasis SMS.

Di Indonesia kajian tentang jurnalisme alternatif berbasis teknologi komunikasi bergerak (mobile communication technology), seperti telepon seluler, masih terbatas. Padahal penetrasi telepon seluler di Indonesia sangat tinggi. Makalah ini menguraikan bagaimana jurnalisme SMS diaplikasikan sebagai instrumen advokasi oleh masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat. Hasil riset ini menemukan, RuaiSMS telah membantu masyarakat adat dalam menuntut
hak-hak politiknya di hadapan kuasa negara dan kuasa modal.

Warga Kalimantan Barat umumnya memperoleh informasi dalam bentuk cetak maupun elektronik, baik TV maupun radio. Beberapa surat kabar lokal yang cukup besar di provinsi ini antara lain Tribun Pontianak, Pontianak Pos, Kapuas Pos, Kun Dian Ri Bau, Radar Pontianak, Equator Harian, dan Kalimantan Tribune. Sekitar 70% distribusi dari media cetak tersebut beredar di Pontianak, ibukota provinsi. Sementara sebagian besar masyarakat adat tinggal di desa-desa terpencil. Karena jangkauan distribusi surat kabar yang terbatas, warga tidak memiliki akses ke surat kabar lokal maupun nasional. 

Untuk mendapatkan berita dan informasi dari televisi lokal, warga di desa harus membeli dan menggunakan perangkat antena parabola. Stasiun TV lokal sebagian besar berbasis di Pontianak, antara lain PonTV, Kapuas Citra Televisi, Matahari TV, RuaiTV, TVRI Kalbar, dan Sambas TV. Namun di antara stasiun TV lokal yang ada, Ruai TV memiliki proporsi program dan acara lokal yang lebih besar dibanding stasiun TV lain, sekitar 70 persen. Stasiun TV ini yang mengudara sejak 7 Juli 2007 ini didirikan dan dimiliki orang lokal Kalimantan Barat. Stasiun TV ini mengusung konten lokal dengan isu seputar dinamika dan persoalan yang dihadapi masyarakat adat, seperti konflik perkebunan kelapa sawit, tambang, keterbatasan akses infranstruktur-kesehatan, pendidikan, infrastruktur jalan, air bersih dan isu sosial lainnya.

Sejak 2011 Ruai TV, sebuah stasiun TV swasta lokal di Kalimantan Barat, telah mengembangkan RuaiSMS. Ini merupakan praktik jurnalisme yang melibatkan warga (citizen journalist) dengan menggunakan teknologi ponsel. Di sini warga, kepala adat, guru, petani karet, pegawai koperasi, hingga aktivis berperan sebagai jurnalis.Melihat penetrasi telepon seluler dan penggunaan SMS sebagai perangkat aktivisme, penelitian ini akan mengidentifikasi pengembangan dan praktik jurnalisme SMS oleh masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat. Penelitian ini juga akan mengkaji dampak sosial dan politik dari jurnalisme SMS sebagai alat aktivisme sosial untuk menyelesaikan masalah mereka.

Media Baru sebagai Alat Pendukung Aktivisme

Dalam sejumlah kajian, kalangan akademisi berpendapat bahwa media baru seperti perangkat komunikasi bergerak (mobile communication), ponsel, internet dan media sosial, berpotensi menjadi saluran komunikasi yang mendukung aktivitas dan pencapaian tujuan-tujuan politik. Media baru dimanfaatkan sebagai alat komunikasi untuk pendidikan politik, propaganda, kampanye, pengorganisasian pemilih hingga mobilisasi massa. 

Penggunaan ponsel untuk aktivisme politik di Indonesia disinggung sedikit dalam kajian Howard (2010). Selain internet, sejumlah aktivis menggunakan teknologi ponsel untuk menyebarluaskan informasi sebagai pendidikan politik, menggalang dan mengorganisasi massa untuk mendukung reformasi menentang pemerintahan rezim Suharto.

Sementara itu di kancah global, kajian terhadap penggunaan perangkat komunikasi ini cukup luas. Sejumlah ilmuwan politik mengkaji penggunaan ponsel sebagai teknologiyang mendukung aktivisme politik (Castells, 2007; Miard, 2009).Kalangan aktivis di Filipina menggunakan ponsel dan aplikasi pesan pendek (short message service atau SMS) untuk untuk tujuan politik. Lewat SMS, para aktivis menyebarkan pesan untuk menggalang massa dan memprotes pemerintahan yang berujung pada penggulingan Presiden Joseph Estrada (Rheingold, 2002; Rafael, 2003). 

Nyabuga dan Mudhai (Mudhai, Tettey dan Banda, 2009) mengungkapkan, kalangan aktivis dan politisi di Kenya telah sukses memanfaatkan SMS sebagai alat komunikasi untuk memantau proses pemilihan umum, pendidikan politik, mendongkrak partisipasi pemilih, media kampanye, maupun melaporkan hasil dalam pemilu di sejumlah wilayah di negeri itu. Penggunaan ponsel sebagai perangkat komunikasi yang mendukung aktivisme politik di beberapa negara di Afrika juga diamati Sokari (2009). 

Dari sedikit penelitian terkait penggunaan ponsel dan aktivisme politik yang ada, kajian terhadap penggunaan ponsel untuk jurnalisme alternatif melalui SMS boleh dikatakan lebih sedikit lagi.

Jurnalisme Alternatif 

Tulisan ini secara khusus mencoba mengkaji penggunaan ponsel dan SMS untuk jurnalisme alternatif yang mendukung aktivisme warga Dayak di Kalimantan Barat. Gagasan jurnalisme alternatif berada di dalam bangunan konsep media alternatif (Atton and Hamilton, 2008; Harcup, 2010). 

Dalam pandangan sejumlah akademisi kritis (Fuchs, 2010; Harcup, 2010; Couldry dan Curran, 2003; Atton dan Hamilton, 2008; Coyer, Dowmunt dan Fountain, 2007), media alternatif adalah media yang menentang dominasi format-format kapitalistik dari produksi media, struktur dalam institusi media, pemilihan sumber dan penekanan isu, distribusi, dan resepsi. Sehingga rumusan media alternatif adalah antitesa dari media mainstream yang korporatis, berbasis profesional, sentralistik, komersial, berorientasi laba, dan menganggap berita sebagai komoditas.

Terdapat sejumlah perbedaan pandangan di kalangan akademis terkait kategori, konsep dan media alternatif. Ada yang menyebut sebagai media akar-rumput, media komunitas, media warga, ada juga yang mengistilahkan dengan media radikal. Namun sebagian kalangan akademis menyepakati bahwa rumusan tentang media alternatif dikembangkan sebagai pembanding dari rumusan media arus utama yang kapitalistik (Coyer, Dowmunt, dan Fountain, 2007; Harcup, 2010; Atton dan Hamilton, 2007; Fuchs, 2010).

Arsitektur Informasi RuaiSMS

Pemilihan dan penggunaan aplikasi SMS dalam praktik jurnalisme yang dijalank-an RuaiSMS dengan mempertimbangkan tingkat penetrasi ponsel di Kalimantan Barat yang relatif tinggi. Infrastruktur jaringan komunikasi ponsel lebih baik dibanding komunikasi data seperti koneksi internet. Biaya komunikasi melalui layanan SMS juga relatif lebih murah dibanding komunikasi panggilan telepon. Sehingga tidak membe-bani warga untuk terlibat sebagai jurnalis di RuaiSMS.

SMS juga memiliki kemampuan interaktif, dimana penerima langsung dapat merespon pesan yang dikirim. Meski begitu, layanan ini juga memiliki keterbatasan. Di antaranya, jumlah karakter dalam setiap pengiriman dan penerimaan pesan.

Ada tiga komponen dalam arsitek-tur informasi yang dikembangkan pengelola RuaiSMS dalam mengoperasikan jurnal-isme alternatif melalui aplikasi SMS (lihat gambar diatas-red.). Komponen pertama adalah warga sebagai produsen informasi dan berita. Melalui ponsel dan aplikasi SMS di dalamnya, seo- rang petani, guru maupun kepala dusun dapat mengirim informasi dan peristiwa ke nomor ponsel moderator RuaiSMS.

Komponen kedua adalah moderator RuaiSMS. Ia menjalankan tiga fungsi pent- ing, yaitu a)menyunting atas pesan berupa informasi pendek yang berasal dari warga, b)mengirim ( broadcast ) pesan berita yang sudah disunting ke sejumlah penerima yang relevan, dan c) mencari dan mendaftar nomor-nomor pejabat publik, pegiat organisa- si nirlaba (NGO), aktivis, tokoh-tokoh agama, intelektual, dan adat serta pemangku kepent- ingan lainnya yang dianggap relevan sebagai penerima pesan.

Meski dapat mengakses informasi dari jurnalis warga melalui ponsel, moderator RuaiSMS menetapkan untuk membangun ruang tersendiri di kantor RuaiTV di Kota Pontianak. Dalam ruang ini terdiri dari satu set PC (personal computer) dilengkapi dengan modem internet yang berfungsi sebagai server dan pendingin ruangan yang bekerja hampir 24 jam setiap hari.

RuaiSMS dioperasikan dengan aplikasi SMS broadcast yang dikembangkan dengan nama FrontlineSMS. Secara sederha-na, melalui aplikasi ini sebuah ponsel dapat menerima sebuah pesan dan meneruskan pesan ke sejumlah nomor yang dikehendaki. FrontlineSMS dipasang (install) di PC yang terhubung dengan jaringan internet melalui modem yang dipasang kartu SIM (SIM card) dari operator seluler tertentu. FrontlineSMS sendiri telah digunakan di sejumlah negara di benua Afrika.

Komponen ketiga adalah para pener-ima berita SMS, seperti pejabat publik, pe-giat organisasi nirlaba (NGO), aktivis, tokoh-tokoh agama, intelektual, dan adat serta pemangku kepentingan lainnya yang diang-gap relevan sebagai penerima pesan.

Para penerima berita SMS yang dikirim oleh moderator RuaiSMS tidak hanya sekedar penerima pesan. Mereka juga dapat menjadi produsen informasi atau jurnalis RuaiSMS. Misal, seorang bupati, kepala Humas Kepolisian Daerah (Polda), maupun kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kaliman-tan Barat yang berposisi di Kota Pontianak dan berlangganan berita dari RuaiSMS, dapat mengirim berita SMS ke nomor modera-tor RuaiSMS sehubungan dengan kebijakan terbaru yang menyangkut kepentingan petani karet. Moderator kemudian meneruskan berita SMS itu kepada warga dan petani yang di pelosok yang tidak terjangkau media cetak.


Ket :Ruai adalah nama unggas di suku Dayak yang populer dikenal dengan burung Rangkong.

(Samiaji : Peneliti Media Komunikasi Massa dan Wartawan Media Nasional)